Mengembalikan Sisi Tradisional Perhiasan Nusantara dengan Napas Modern

 In News

Sedikit orang yang tahu jika Indonesia kaya akan ragam perhiasan. Bahkan, perhiasan di bumi Nusantara ini juga memiliki desain apik dan menarik. Sebut saja perhiasan seperti Pending dari masyarakat peranakan, kemudian Mamuli, Taka hingga Marangga yang berasal dari Nusa Tenggara Timur. Memang, sekilas nama-nama itu mungkin asing didengar, tapi semuanya merupakan perhiasan Indonesia yang memiliki desain menarik dan bermakna. Berangkat dari itu, The Palace, merasa perlu mengembalikan lagi kejayaan perhiasan antik khas Indonesia. Untuk mewujudukannya, perusahaan retail perhiasan tersebut menggandeng desainer senior Indonesia, Samuel Wattimena.

Kolaborasinya keduanya meluncurkan koleksi perhiasan Nusantara yang terbagi dalam tiga seri: Nusa, Anta dan Tara. Masing-masing seri merepresentasikan perhiasan dari daerah Barat (Nusa), Tengah (Anta) dan Timur (Tara). Lantas, apa yang menjadi menarik dari ketiga seri tersebut? Samuel memastikan kolaborasi ini bukan sekadar mereplika yang sudah ada. Perhiasan ini mengambil siluet besar dari masing-masing perhiasan, kemudian direkonstruksi dengan desain serta motif baru dengan tambahan emas dan berlian.

Sementara itu, General Manager The Palace Jelita Setifa mengatakan, perusahaannya ingin membuat perhiasan tradisional Nusantara dengan napas modern. “Perhiasan yang tetap dengan siluet sesuai budaya dulu, tapi tetap menarik dipakai sekarang. Bisa disebut perhiasan Nusantara zaman now,” ungkap Jelita kepada Kompas Lifestyle, Jakarta, Kamis (19/4/2018). Penasaran, bukan? Berikut tiga seri koleksi perhiasan Nusantara dari The Palace: 1. Seri Nusa

1. Seri Nusa

Mewakili perhiasan dari daerah Barat Indonesia, Seri Nusa memiliki arti rangkaian kepulauan. Samuel sendiri memilih Pending yang berbentuk oval dan diwarisi masyarakat peranakan, hasil dari pembauran antara pedagang Tiongkok dan masyarakat di Sumatra. Siluet Pending sebagai pengantar Samuel bekreasi mewujudkannya dalam bentuk cincin, kalung dan anting. Berbeda dari awalnya yang identik dikenakan sebagai kepala dari ikat pinggang. Di tangan Samuel, perhiasan yang dulu dikenakan para raja dan ratu itu dibuat mewah, dengan desain motif tambahan.

2. Seri Anta

Seri ini mewakili perhiasan Indonesia bagian tengah dengan mengambil tiga perhiasan antik khas masyarakat Nusa Tenggara Timur.  Tiga siluet perhiasan yang diadopsi yakni Mamuli, Taka, dan Marangga memiliki arti angan-angan seseorang. Makna ini sendiri tak lepas dari kegunaan perhiasan yang menjadi warisan di NTT dan disimpan di bagian bawah atap rumah. “Ada waktu dan upacara tertentu perhiasan tersebut dikeluarkan untuk berkomunikasi ketika mereka ingin meminta sesuatu,” ujar Antropolog UI Notty J Mahdi. Pada seri ini, Samuel meminjam ketiga siluet perhiasan antik tersebut menjadi motif dan desain berbeda, namun tak menghilangkan esensi. Seperti motif Mamuli yang dijadikan pelengkap pada gelang emas enam lapis. Kemudian anting emas dan berlian dengan motif Marangga.

3. Seri Tara

Terakhir seri Tara yang mewakili perhiasan Indonesia bagian Timur dengan inspirasi dari Mas Bulan Base, Belak dan Pepek Sortil.  Seri yang terinspirasi dari dari perhiasan daerah Maluku Tenggara dan Timor ini memiliki arti perempuan dengan kebebasan jiwa dan menyatakan keberhasilan juga prestasi hidup sejati. Adapun motif paling kentara yakni bentuk matahari. Ini juga tak lepas dari kepercayaan di sana bahwa matahari melambangkan emas. Di seri ini, Samuel meracik siluet tersebut ke dalam perhiasan yang didominasi bentuk lingkaran.  Kendati demikian, esensi dan tampilan mewah tetap tergambarkan lewat pilihan emas dan berlian yang dipadukan.

Identitas bangsa

Sama halnya seperti Batik, perhiasan Nusantara pun diharapkan bisa membuktikan diri sebagai identitas bangsa Indonesia.  Harapan ini disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI Puan Maharani. Puan melihat perhiasan Nusantara sebagai salah satu yang bisa dikembangkan, baik dari sisi tren atau mengangkat budaya Indonesia itu sendiri. “Saya berharap ada satu desain perhiasan yang mencirikan Indonesia ke depan,” ujar Puan.

Dengan diluncurkannya koleksi perhiasan Nusantara, kata Puan, merupakan langkah positif untuk bisa mendorong terciptanya harapan tersebut.  Selain desain yang disebut menarik, juga tidak meninggalkan sisi historis, dan nilai. “Diharapkan, setiap kita berikan hal tersebut, bukan hanya berharga, juga memiliki nilai dan arti tertentu untuk dikenang,” kata Puan. Nah, jika tertarik, koleksi perhiasan Nusantara yang dibanderol Rp 3 juta – Rp 200 juta ini dapat dipesan secara khusus di outlet The Palace Jeweler. Koleksi perhiasan Nusantara ini juga akan tersedia di 12 toko The Palace Jeweier di indonesia, serta didistribusikan di Iebih dari 50 outlet Frank&Co, Mondial dan Miss Mondiai mulai dari bulan April 2018.

Recent Posts

Leave a Comment